Saturday, April 25, 2015
Ajaran Kasih
15 Juli 1099, Yerusalem ditaklukan. 60.000
orang dibunuh, terdiri dari orang-orang Yahudi,
Muslim, laki-laki, perempuan dan anak-anak.
Dilukiskan oleh saksi mata Kengerian begitu
dahsyat: "Kami harus berjalan didalam darah
musuh kami sedalam mata kaki". Akhirnya pada
15 Juli 1099, Yerusalem (Baitul Maqdis) jatuh ke
tangan pasukan Salib, tercapailah cita-cita
mereka. Berlakulah keganasan luar biasa yang
belum pernah terjadi dalam
sejarah umat manusia. Kaum kafir Kristen itu telah
menyembelih penduduk sipil Islam baik lelaki,
perempuan dan anak-anak dengan sangat
ganasnya. Mereka juga membantai orang-orang
Yahudi dan orang-orang Kristen yang enggan
bergabung dengan kaum Salib. Keganasan kaum
Salib Kristen yang sangat luar biasa itu telah
dikutuk dan diakui oleh para saksi dan penulis
sejarah yang terdiri dari berbagai agama dan
bangsa. Seorang ahli sejarah Prancis, Michaud
berkata: "Pada saat penaklukan Yerusalem oleh
orang Kristen tahun 1099, orang-orang Islam
dibantai di jalan-jalan dan di rumah-rumah.
Yerusalem tidak punya tempat lagi bagi orang-
orang yang kalah itu. Beberapa orang coba
mengelak dari kematian dengan cara mengendap-
endap dari benteng, yang lain berkerumun di istana
dan berbagai menara untuk mencari perlindungan
terutama di masjid-masjid. Namun mereka tetap
tidak dapat menyembunyikan diri dari pengejaran
orang-orang Kristen itu.
Tentara Salib yang menjadi tuan di Masjid Umar, di
mana orang-orang Islam coba mempertahankan
diri selama beberapa lama menambahkan lagi
adegan-adegan yang mengerikan yang menodai
penaklukan Titus. Tentara infanteri dan kavaleri
lari tunggang langgang di antara para buruan. Di
tengah huru-hara yang mengerikan itu yang
terdengar hanya rintihan dan jeritan kematian.
Orang-orang yang menang itu menginjak-injak
tumpukan mayat ketika mereka lari mengejar
orang yang coba menyelamatkan diri dengan sia-
sia."Raymond d'Agiles, yang menyaksikan
peristiwa itu dengan mata kepalanya sendiri
mengatakan: "Di bawah serambi masjid yang
melengkung itu, genangan darah di dalamnya
mengenai lutut dan mencapai tali kekang kuda."
Aksi pembantaian hanya berhenti beberapa saat
saja, yakni ketika pasukan Salib itu berkumpul
untuk menyatakan rasa syukur kepada Tuhan
mereka Yesus Kristus atas kemenangan mereka.
Tapi begitu upacara perayaan itu selesai,
pembantaian diteruskan dengan lebih ganas lagi.
Seterusnya Michaud berkata: "Semua yang
tertangkap yang disisakan dari pembantaian
pertama, semua yang telah diselamatkan untuk
mendapatkan upeti, dibantai dengan kejam. Orang-
orang Islam itu dipaksa terjun dari puncak menara
dan bumbung-bumbung rumah, mereka dibakar
hidup-hidup, diseret dari tempat persembunyian
bawah tanah, diseret ke hadapan umum dan
dikurbankan di tiang gantungan."Selanjutnya
Michaud menambahkan: "Air mata wanita,
tangisan anak-anak, begitu juga pemandangan dari
tempat Yesus Kristus memberikan ampun kepada
para algojonya, sama sekali tidak dapat
meredakan nafsu membunuh orang-orang yang
menang itu. Penyembelihan itu berlangsung
selama seminggu.Beberapa orang yang berhasil
melarikan diri, dimusnahkan atau dikurangkan
jumlahnya dengan perbudakan atau kerja paksa
yang mengerikan."
Archbishop Tyre, saksi mata melukiskan peristiwa
itu sbb:
"It was impossible to look upon the vast numbers
of the slain without horror; everywhere lay
fragments of human bodies, and the very ground
was covered with the blood of the slain. It was not
alone the spectacle of headless bodies and
mutilated limbs strewn in all directions that roused
the horror of all who looked upon them. Still more
dreadful was it to gaze upon the victors
themselves, dripping with blood from head to foot,
an ominous sight which brought terror to all who
met them. It is reported that within the Temple
enclosure alone about ten thousand infidels
perished."
"Adalah mustahil untuk melihat keatas angka-
angka luas yang dibunuh tanpa kengerian; di
mana-mana diletakkan bagian-bagian tubuh
manusia, dan seluruh lantai telah tertutup oleh
darah para korban. Itu tidak sendiri karena
pertunjukan besar tubuh-tubuh tanpa kepala dan
terpotong-potong yang ditaburkan di segala
jurusan, benar-benar membangunkan kengerian
bagi semua yang melihatnya. Meski demikian yang
lebih seram adalah untuk menatap atas para
pemenang diri mereka, menitikkan darah seluruh
badan, suatu penglihatan tidak menyenangkan
yang membawa teror bagi semua menjumpainya.
Itu dilaporkan di dalam lampiran kuil itu sendiri
bahwa sekitar sepuluh ribu orang pengkhianat
binasa."
Gustave Le Bon telah mensifatkan penyembelihan
kaum Salib Kristen sebagaimana kata-katanya:
"Kaum Salib kita yang 'bertakwa' itu
tidak memadai dengan melakukan berbagai bentuk
kezaliman, kerusakan dan penganiayaan, mereka
kemudian mengadakan suatu pertemuan yang
memutuskan supaya dibunuh saja semua
penduduk Yerusalem yang terdiri dari kaum
Muslimin dan bangsa Yahudi serta orang-orang
Kristen yang tidak memberikan pertolongan
kepada mereka yang jumlahnya mencapai 60.000
orang. Orang-orang itu telah dibunuh semua dalam
masa 8 hari saja termasuk perempuan, anak-anak
dan orang tua, tidak seorang pun yang terkecuali."
Gustave Le Bon dalam bukunya "La Civilisation
Islamique er Arabe" hal.407 juga mengatakan,
"Kekejaman yang dilakukan oleh tentara salib
terhadap kawan maupun lawan, tentara maupun
rakyat sipil, wanita ataupun anak-anak, orang tua
maupun anak muda, membuat mereka menduduki
tempat teratas dalam sejarah kekerasan".
Salah seorang saksi sejarah, Robert The Monk,
menulis sbb:
"Tentara kami menyerbu seluruh lorong, medan,
serta di atas bumbung-bumbung rumah yang
bersambungan seperti singa yang kehilangan
anaknya. Kami mencabik-cabik anak-anak
dengan kejam. Kami membunuh orang tua dan
muda dengan pedang. Untuk mempercepat kerja,
kami menggunakan satu tali untuk mengantung
leher beberapa orang."Tentara merampas dan
merampok apa saja yang mereka temukan.
Mereka bahkan merobek perut para korban untuk
mencari emas dan uang. Apa saja yang ditemukan,
mereka rampas. Akhirnya, Bohemond
mengumpulkan semua yang selamat, lelaki
ataupun perempuan, yang cacat dan tidak berdaya
di dalam sebuah istana, dan membunuh mereka
semua. Mereka meninggalkan yang muda untuk
dijual di pasar budak Antiochia.
Godfrey Hardouinville melaporkan kepada Paus,
"Di Yerusalem, umat Islam yang ditangkap,
dibunuh oleh orang-orang kami di halaman kuil
Solomon hingga kuil itu dipenuhi dengan darah
yang menggenang sampai ke lutut."
Ahli sejarah Kristen yang lain, Mill, mengatakan:
"Ketika itu diputuskan bahwa rasa kasihan tidak
boleh diperlihatkan terhadap kaum Muslimin.
Orang-orang yang kalah itu diseret ke tempat-
tempat umum dan dibunuh. Semua kaum wanita
yang sedang menyusu, anak-anak gadis dan
anak-anak lelaki dibantai dengan kejam. Tanah
padang, jalan-jalan, bahkan tempat-tempat yang
tidak berpenghuni di Yerusalem ditaburi oleh
mayat-mayat wanita dan lelaki, dan tubuh anak-
anak yang terkoyak-koyak. Tidak ada hati yang
lebur dalam keharuan atau yang tergerak untuk
berbuat kebajikan melihat peristiwa mengerikan
itu." Penaklukan Yerusalem oleh tentara Salib
benar-benar diwarnai dengan pembantaian yang
tak pandang bulu (indiscriminate massacre).
Kaummuslimin -meliputi semua umur dan jenis
yang tak berdaya- dibantainya.
K. Hitti menuliskan, "Heaps of heads and hand feet
were to be seen throughout the street and squares
of the city." (Tumpukan dari kepala-kepala dan
kaki tangan korban pembantaian dipamerkan di
jalan-jalan dan di sudut-sudut kota).
Para ahli sejarah mencatat jumlah korban
pembantaian itu sekitar 60.000 sampai 100.000
orang lebih. Peristiwa yang kejam ini, jika
dibandingkan dengan penaklukan Shalahuddin al-
Ayyubi dalam merebut kembali Yerusalem, tentu
menimbulkan pertanyaan, "Benarkah motivasi
agama (Kristen) menjiwai perang ini?".
Karena, berbeda 180 derajat dengan pembantaian
yang dilakukan oleh pasukan Kristen, umat Islam
sama sekali tidak melakukan pembantaian balasan
ketika merebut kembali Yerusalem dibawah
pimpinan Salahuddin Al-Ayyubi. Kristen
membantai sangat banyak umat manusia ketika
merebut Yerusalem,
sementara Islam dibawah pimpinan Shalahuddin
Al-Ayyubi berperilaku jauh lebih mulia dan beradab
daripada Kristen ketika merebut Yerusalem
kembali. Benar-benar bertolak belakang sekali
memang antara Islam dengan Kristen itu. Sikap
Salahuddin ini menambah harum namanya, baik di
mata lawan maupun kawan.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment